Jumat, 05 Februari 2010

Perlakukan Aku Sama Dengan Adikku!!

Apa harus dibedakan 2 orang anak laki-laki dan perempuan dalam suatu keluarga? Kali ini yang aku rasakan adalah ketidak adilan. Sungguh-sungguh tidak adil yang dilakukan oleh kedua orang tuaku (khususnya mamaku) kepadaku dan adik laki-laki ku. Walaupun aku sadar kalau beliau adalah orang yang paling dicintai Tuhan karena surga ada di bawah telapak kakinya.

Beda umurku dan adikku padahal hanya 2 tahun, tapi perlakuan yang kami dapatkan sangat jauh berbeda. Di rumah, kami sekeluarga tinggal berempat, tetapi hanya adikku lah yang paling dimanja (apalagi sama mamaku). Seperti di-anak tirikan rasanya aku ini. Memang, apapun yang aku minta, mereka selalu berikan, tapi sungguh bukan itu mauku. Yang aku mau, aku diperlakukan sama seperti adikku. Setidaknya bukan aku yang mengikuti adikku, tetapi adikku yang diperlakukan seperti aku. Memang, aku terlihat jauh lebih menonjol ketimbang adikku. Aku bisa melakukan berbagai macam, aku pintar dan aku bisa dengan mudah mendapatkan apa yang aku inginkan (walaupun itu dari orang lain). Munkin saja sebenarnya adikku bisa seperti aku, asal tidak dimanja terus menerus oleh mama seperti selama ini. Adikku pun bahkan menjadi tidak punya etika dan cuek terhadap segala sesuatu yang ada di rumah (termasuk kepada mama). Sewaktu adikku ada masalah dan mamaku tidak bisa menenangkan dan memberikan solusi, akulah yang diperintah untuk menangani adikku (memangnya aku ini baby sitter atau psikiater?!)

Sebenarnya aku ingin menyayangi orang tuaku sepenuh hatiku. Aku sangat sayang pada keluargaku, tapi mengapa seperti ini yang aku dapat?
Aku hanya ingin diperlakukan sama seperti adikku! Itu saja! Tidak lebih!!

Ini ceritaku dan bagaimana orang tuaku memperlakukanku secara berbeda dengan adikku.
1. Masalah mengurus rumah dan bersih-bersih rumah
Memang sudah seharusnya yang bersih-bersih rumah adalah perempuan, dan aku pun sangat sadar akan hal itu. Aku anak perempuan dan harus bersih-bersih rumah. Tapi apakah adikku tetap disuruh diam saja sedangkan aku bersih-bersih rumah yang luas itu? Suatu ketika aku sakit, dan hari itu hari sabtu, hari dimana biasanya aku bersih-bersih rumah. Tetapi apa mereka tidak memperhatikan aku? Atau mungkin tidak peduli akan kesehatanku, sampai-sampai aku tetap disuruh untuk bersih-bersih rumah?! Tolong dong, ada adikku, dia juga bisa melakukannya, tapi sayangnya tidak ada satu pun diantara mama dan bapakku yang menyuruhnya. Hal ini tidak hanya terjadi sesekali, tetapi sering sekali. Aku bekerja, sedangkan adikku main atau malah ongkang-ongkang kaki sambil nonton tv. Apakah ini wajar?? Adil??

2. Masalah mengurus keperluan sendiri
Semenjak aku kelas 1 SMA, aku sudah diperintahkan oleh orang tuaku untuk mencuci baju sendiri (semenjak tidak ada pembantu). Dan aku pikir, ada benarnya juga, aku tidak harus merepotkan bapak untuk mencuci baju dan mama untuk menyetrika bajuku. Sampai akhirnya masih aku jalani sampai sekarang. Tetapi waktu pun berjalan, aku dan adikku pun tumbuh semakin dewasa, membuat aku berpikir, kenapa adikku tidak diperintah seperti aku? untuk mencuci baju sendiri, padahal umurnya sekarang sudah hampir 19 tahun dan dia pun laki-laki, tapi masih saja baju dicuci dan disetrika oleh orang tua. Sedangkan aku, tidak mencuci baju satu minggu saja, sudah dimaki oleh mereka. Enak sekali hidup adikku itu. Tapi untuk yang satu ini, aku mau, orang tuaku memperlakukan adikku seperti aku.

Mungkin itu hanya sedikit contoh yang membedakan aku dengan adikku yang dilakukan orang tuaku. Sebenarnya masih banyak selain ini, tapi mungkin lebih baik jika aku simpan sendiri.

Apakah iya, anak pertama selalu di-nomer duakan?? Serasa aku bukan anak mereka! Jujur, aku tidak betah hidup dalam keluarga ini!!

2 komentar:

  1. Lah kakak enak dri sma nyuci sendiri, saya dari kelas 4 sd, apa apa sendiri, kalo minta apa" harus nunggu dulu, sekarang saya udh sma kls 3, kaya orang kos dirumah sendiri, mau makan mau engga, gak ada yg peduli ��

    BalasHapus
  2. Lebih miris saya kak. Semenjak kecil kakak laki-laki saya selalu dapet apa yang dia inginkan. Mainan, kasih sayang, makanan yang enak. Sedangkan saya dari kecil tak pernah dibelikan mainan walaupun saya memohon dibelikan. Kasih sayang boro boro enggak pernah. Saya malah sering disuruh jaga kakak laki-laki saya. Suruh laporan ini itu. Kakak udah makan blm? Udah mandi pake air anget blm? Dan saya suka kena tegur kalo lupa ambilin dia makan sama angetin air buat mandi. Padahal sebenernya kakak saya itu mampu sendiri. Dia tiap sore cuma main sama temen-temennya. Urusan makanan juga. Kalo ada daging atau ikan. Ini kasih kakakmu? Kamu itu harusnya jangan makan daging nanti kamu gendut. Ada bakso dan lainnya. Ini buat kakak kamu makannya pake tahu ya. Bayangin aku padahal yang beli. Gara-gara kakakku masih laper dia nyuruh ibu beliin bakso lagi tapi punyaku yang diembat. Aku suruh makan pake tahu. Sejujurnya aku pulang pergi sama temenku belinya agak jauh pake sepeda lagi. Tapi naasnya aku enggak bisa makan apa yang aku beli sendiri. Alesan yang kuat uangku juga uang mama. Kan yang dipake itu uang mama.
    Urusan yang lain lagi kakakku lulus perguruan tinggi orang tuaku kegirangan enggak kira sedangkan ketika aku lulus perguruan tinggi orang tuaku biasa aja. Cuma bilang Oh lulus. Gtu aja. Kakakku sampai dibuatin selametan segala. Aku enggak. Dari kecil tiap hari setor nilai 100 cuma di respon biasa. Kakakku setor 80 aja orang tuaku sudah seneng enggak kira. Pernah kakakku dapet nilai 5 di SMA dia enggak berani bilang sama orang tua. Tapi akhirnya ia enggak kena marah. Malah ortu nyalahin soalnya yang susah. Dan anehnya lagi aku yang dapet 85 di bilang kebanyakan main sampai nilainya turun padahal soalnya bener bener susah. Trigonometri. Kena marah deh. Hp di sita. Dia punya mainan 2 kerdus. Dan tiap harinya aku suruh ngelapin biar tetep bersih. Dan kalo enggak aku yang diomelin. Saat aku sakitpun aku di bilang manja. Tapi beneran aku enggak mampu buat bangun. SAKIT TIPUS. Saking sakitnya sampai dibawa ke rumah sakit. Tapi apa yang nganterin malah tanteku. Orang tuaku nemenin kakakku pergi buat nyari laptop buat kuliah yang cocok sama jurusan teknik.
    Oh ya kita kuliah di universitas yang sama. Lewat jalur sbmptn. Dan yang sering di telpon setiap harinya cuma kakakku. Aku enggak pernah. Hal yang di tanyain ya yang enggak penting banget. Pas itu aku tanya sendiri sama kakakku. Kakakku malah ngeluh kalo ortu telpon dia setiap hari. Sesungguhnya aku enggak pernah di tanyain dalam obrolan telpon itu. Paling aku hanya telpon kalo pulang semesteran gtu aja. Sungguh kakakku enggak pernah kekurangan uang. Orang tuaku melebihkan uang untuknya karena kakakku itu sering sakit. Orang tuaku khawatir banget. Disana aku kerja ngelesin anak sd sama di minimarket. Kerja buat makan. Samaa biaya ini itu. Aku klo minta enggak bakalan di kasih. Dari pada bingung mending aku cari kerja. Padahal kami saudara kandung. Darah kami sama dan tea DNA kami pun cocok tapi entah kenapa perlakuan kepadaku dan kakakku sangat jauh berbeda. Aku enggak tahu.
    Kakakku punya IQ 135 dan aku IQ 106 tapi kakakku mendapat nilai yang kurang bagus. Menurut kalian apa penyebabnya. Aku pernah berpikir seandainya aku bisa melebihi kakakku dibidanh akademik aku mungkin akan mendapatkan kasih sayang juga. Tapi kenyataannya pahit. Kakakku yang dikasih anugrah IQ 135 tidak memanfaatkannya dengan sebaik baiiknnya. Perjuangan kakakku yang biasa saja di nilai luar biasa. Sedangkan perjuanganku yang sampai malem belajar tidur sampai malem. Di jalan baca catatan terus sampai bisa hafal sampai bisa memahami dan dapet nilai yang bagus. Tapi respon dari orang tua biasa aja. Kenapa mereka hanya fokus dengan kakakku saja. Hidup di rumah seperti tak hidup. Hidup tetapi juga mati

    BalasHapus